
Padang, Humas – Tim Madra Swara MAN 2 Padang meraih prestasi pada Festival Seni Pelajar Skola Art Fest 2025. Dalam ajang yang digelar Dinas Kebudayaan Sumbar, Minggu (16/11/2025), mereka dinobatkan sebagai “Penampil Terbaik” lewat karya seni kolaboratif bernuansa budaya dan keislaman.
Predikat itu diberikan berdasarkan tiga aspek penilaian yakni keterpaduan pertunjukan, komunikasi artistik, dan kreativitas tim. Pada penampilan kali ini, koreografi ditata Sanggar Silodang Production di bawah arahan Dwi Ranti Safitri, sementara komposisi musik digarap Rahmad Al Haviz.
Tim Madra Swara menampilkan karya “Bhineka Swara”, yang mengangkat ragam budaya dan tradisi berpadu dengan nilai Islam. Karya ini menggambarkan semangat kebinekaan, kesetaraan, dan persatuan, dengan kalimat Allah sebagai simbol harmoni dalam berbagai tradisi.
Pembina Madra Swara Muhammad Aqil menyampaikan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari latihan intensif para siswa. Ia menjelaskan bahwa anak-anak berupaya memberikan penampilan terbaik sejak proses persiapan.
“Alhamdulillah, anak kami sudah tampil maksimal setelah latihan intensif selama beberapa minggu dan akhirnya dinobatkan sebagai penampil terbaik di Skola Art Fest 2025,” ujarnya.
Ia menyebut keberhasilan itu sebagai jawaban atas harapan pimpinan dan warga madrasah. Menurutnya, capaian tersebut membuktikan kesungguhan siswa. “Kami akhirnya bisa memberikan yang terbaik dan mengharumkan nama MAN 2 Padang,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala MAN 2 Padang, Ahmad Asdi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa dan pembina atas capaian tersebut. Ia menilai prestasi ini menunjukkan perkembangan kreativitas peserta didik dalam bidang seni pertunjukan.
“Terima kasih kepada para siswa dan para pendamping yang telah bekerja keras hingga meraih prestasi ini. Kami berharap capaian seperti ini terus ditingkatkan untuk memperkuat kreativitas siswa,” ujarnya.
Ahmad Asdi juga mengapresiasi inovasi tim yang mengangkat isu-isu sosial seperti moderasi beragama, bullying, tawuran, narkoba, hingga fenomena pergaulan negatif, lalu mengemasnya dalam bentuk kolaborasi seni tradisional Minangkabau.
“Ini bentuk sosialisasi yang efektif bagi siswa. Pesan moral dalam karya tersebut menjadi bagian dari upaya preventif untuk mengantisipasi hal-hal negatif di lingkungan pelajar,” pungkasnya.
(Pewarta: ArulDp | Editor: Wenny)